Jumat, 20 September 2013



"Antara Tiga Kota"Emha Ainun Najib

Di Djogja aku lelap tertidur
angin di sisiku mendengkur


seluruh kota pun bagai dalam kubur
pohon-pohon semua mengantuk
di sini kamu harus belajar berlatih
tetap hidup sambil mengantuk
kemanakah harus kuhadapkan muka
agar seimbang antara tidur dan jaga ?


http://almusthafa18.blogspot.com/2010/11/antara-tiga-kota-emha-ainun-najib.html


Selasa, 17 September 2013

“REFLEKSI”

Peternakan oh peternakan
Engkau sungguh menyenangkan
Dari hijauan hingga ilmu hewan
Dari manajemen kandang, hingga
manajemen ekonomi yang matang
Sungguh diriku dibuai olehmu,
oleh kenikmatan memiliki
peternakan yang besar
Memiliki keilmuan tingkat dewa khayangan
Jadi karyawan perusahaan Multinasional terkenal
tapi mengapa ada yang kosong disini??
Kami di didik untuk berusaha keras,
meluapkan cita-cita yang ganas
Kami dihargai ketika raga menjadi kaya,
meniadakan nurani yang semakin teraniaya
Kami sama halnya dengan daging kalengan produksi pabrik,
dengan label yang sama, ukuran yang sama,
warna yang sama, harga yang sama, cita-cita yang sama,
konsumen yang sama, hanya memberi keuntungan
kepada produsen semata.
Berilah kami ruang untuk mencari diri kami,
diatara label2 korporasi tingkat tinggi
Jika aku daging, aq hanya ingin menjadi daging rendang,
dinikmati kaum marjinal yang
mendapatkannya dengan usaha maksimal
Bukan daging sebentuk steak yang habis tergerus taring tajam,
rahang rasa aspal, tanpa arti,
langsung masuk menjadi sebuntal kotoran

Kami hanya perlu pilihan, bukan terpenjara oleh satu tujuan

Kamis, 08 Maret 2012

midnight

midnight

sun, you erased
moon, you embrased

the end of river will come
the dawn will shine
flowers flown
glooms by own

forever ago
i'll be running
nowhere in the summertime
some is me, some is you
we two,

Sabtu, 28 Januari 2012

Pagi

Suasana pagi hari, terasa menyejukkan. Dalam udara yang segar, padi-padian yang hijaunya murni, bukan seperti warna hijau bendera parpol yang hanya dari produk rumahan bernama naptol. Iringa lagu memulaiku bersepeda dalam pagi yang gelap ini. melewati tepian sawah, jalan raya antar provinsi yang tampak rapuh dan romantis di waktu fajar. Temaram lampu penerang jalan seperti backsound yang pas ketika seorang sastrawan membacakan puisi romannya. Terlampau sedikit makhluk-makhluk yang saya lihat pagi ini. Mungkin mereka sudah ada dipasar, atau masih bertasbih di langgar, atau terlelap dalam mimpi panjang. entah apa yang saya cari sepagi ini. Saya hanya ingin merasakan Snerayuza, udara yang bersahabat, walau sudah tak jernih, tercampur limbah kotoran dari mana-mana, bus, motor, pestisida, kotoran ternak yang beterbangan, biasa saja. Ahsemua ini hanya roman, dan lagi lagi seya terjebak oleh kemolekan romantisme jaman "flower generation" yang dengan slogan peace, save earth, stop war, yang sangat artifisial. Romantisme yang mendayu-dayu, mendayungnya terus ke ngarai yang paling dalam, mematikan korbannya karena termabukkan dengannya. Mati lagi, hidup kemudian, mati lagi, hidup kemudian. Secercah cahaya dari surga menunggu. 

Pagi yang indah